Mengerjakan Tugas Rumah

Diposting pada: 2014-03-05, oleh : Admin, Kategori: Tanpa Kategori

Bapak Ibu guru pernah memberikan tugas kepada para siswa? Baik tugas untuk dikerjakan di sekolah saat Bapak/Ibu meninggalkan kelas untuk urusan tertentu yang sangat penting ataupun tugas untuk dikerjakan di rumah yang lebih dikenal sebagai pe-er atau Pekerjaan Rumah (PR). Tentu semua pernah ya..? Pernahkan Bapak/Ibu guru menemukan siswa yang malas mengerjakan PR? Sehingga tidak mengumpulkan PR dan Bapak/Ibu merasa terhambat dalam kegiatan belajar mengajar? Sudahkah Bapak/Ibu menanyakan ke siswa alasan tidak mengerjakan tugas/pe-er?

Beberapa waktu lalu, anak saya kelas 2 Sekolah Dasar sangat antusias membongkar tumpukan majalah dan koran. Saya tanyakan kenapa, ternyata dia sedang mengerjakan PR. Saya pun kaget dan heran karena tidak biasanya anak saya semangat mengerjakan PR, terutama kalau menulis tegak bersambung atau mengerjakan soal di buku, dia pasti sudah mengeluh dan menghindar. Saya kadang maklum karena pulang sekolah sudah jam 14.30 WIB, tentu kecapekan dan mengalami kebosanan dengan mengerjakan yang itu-itu saja. Namun penasaran saya terjawab setelah dia bertanya, “Bunda, ini gambar rumah sehat kan?” sambil membolak-balik majalah bergambar rumah. “Rumah sehat itu memangnya yang seperti apa, nak?” Nobel pun menjawab mantap,”Yang ada banyak ventilasi, jendela, pintu, banyak tanaman, bunga, ada pohon, kena sinar matahari, ada tempat sampah, ada saluran air.” Wah! Hebat juga, anak saya paham konsep rumah sehat dengan mampu mencari gambar sesuai ciri rumah sehat. Kami pun menemukan sejumlah gambar rumah dan memilih satu untuk digunting dan ditempel di buku. Besoknya Nobel senang karena PR nya mendapat nilai A, score 90. Alhamdulillah.

Ada banyak cerita dari para siswa saya, rekan-rekan guru saya mengenai tugas/PR yang tidak dikerjakan. Saya sendiri belum pernah mengalami kejadian fatal dimana siswa sama sekali tidak mengerjakan tugas/PR tetapi beberapa kali ada siswa yang tidak mengerjakan, juga mempelajari kenapa anak saya sendiri malas mengerjakan PR. Jadi sebetulnya apa manfaat PR? Pentingkah PR? PR seperti apa yang tepat untuk siswa?

PR dan Tujuannya

Pekerjaan Rumah (PR), dalam bahasa Inggris disebut homework atau homework assignment merupakan sejumlah aktivitas tugas yang diberikan oleh guru kepada siswa untuk dikerjakan di luar kelas/sekolah. Pekerjaan rumah bisa bermacam-macam dan bisa dikerjakan secara individu maupun berkelompok.

Pekerjaan Rumah diberikan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan siswa, menambah pengetahuan, mengulang materi yang telah dipelajari di sekolah, menyiapkan siswa mempelajari materi berikutnya, bahkan mengaplikasikan pengetahuan siswa dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Bagi sebagian guru yang belum memahami penugasan atau pemberian PR, pekerjaan rumah mungkin berfungsi untuk mengisi waktu luang siswa saja daripada sekedar main. Guru akan dianggap serius mengajar oleh orang tua ketika si anak di rumah sibuk mengerjakan PR. Tak jarang , banyak orang tua justru minta anak diberi PR yang banyak supaya belajar di rumah, apalagi mereka yang anakya sekolah di sekolah swasta yang uang sekolahnya terbilang mahal. Seolah-olah tak sedetik pun anak boleh lengah dan berhenti memegang buku.

Kenapa anak malas mengerjakan tugas atau PR?

Ada beberapa kemungkinan alasan anak tidak mau mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah (PR). Misalnya PR/tugas terlalu banyak, terlalu sulit, tidak menarik, siswa belum paham, keterbatasan sumber belajar, ketidakpercayaan diri mengerjakan sendiri (jika tugas individu), ketidakcocokan dengan anggota kelompok (jika tugas kelompok), anak kecapekan, batas waktu tugas yang terlalu cepat atau terlalu lambat, menganggap tugas/PR tidak penting, atau bahkan kelupaan mengerjakan tugas atau PR.

Apa yang sebaiknya dilakukan guru dalam memberikan tugas/PR?

  • Sampaikan dengan jelas maksud dan tujuan penugasan/pemberian PR.
  • Sesuaikan jenis tugas/PR dengan apa yang sudah guru sampaikan sebelumnya. Jika PR/tugas dimaksudkan untuk persiapan materi berikutnya, sebaiknya sudah ada guideline dan deskripsi tentang materi berikutnya.
  • Berikan tugas/PR secara proporsional mengenai jenis, jumlah dan durasi. PR tidak harus menghabiskan waktu luang siswa, melainkan seberapa dalam mereka belajar melalui tugas/PR tersebut.
  • Berikan variasi tugas atau PR. Sebaiknya PR diberikan secara kontekstual, nyata dalam kehidupan sehari-hari. Anak bahkan boleh memilih tugas/PR sesuai kemampuan dan kesukaan, tetapi tetap dalam materi yang sama.
  • Sampaikan penilaian tugas/PR akan seperti apa sehingga anak akan tahu apa saja yang harus diperhatikan selama mengerjakan PR atau tugas tersebut.
  • Hindari penugasan/PR yang monoton dan seragam misal mengerjakan LKS, buku soal-soal latihan yang akan memungkinkan siswa menyepelekan, saling bergantung kepada teman lain sehingga yang terjadi hanya satu siswa yang mengerjakan dan siswa lain mencontek, Alhasil, semua jawaban tugas/PR sama. Bagaimana guru bisa mengukur dan menilai pemahaman siswa?
  • Koreksi tugas/PR segera setelah siswa mengumpulkan tugas/PR nya dan berikan feedback, lalu kembalikan kepada siswa atau dibahas atau diumumkan atau dipresentasikan. Jika tidak dilakukan, siswa cenderung akan malas mengerjakan tugas/PR berikutnya, atau mengerjakan asal-asalan, yang penting mengumpulkan. Tentu siswa akan berpikir bahwa mengerjakan PR akan sia-sia, bisa mencontek saja dengan mengganti identitas siswa.

Seperti apa contoh PR atau tugas yang memacu kreatifitas siswa?

Guru memberikan beberapa pilihan tugas/PR kepada siswa dengan satu materi yang sama. Sehingga cara pengerjaannya saja yang berbeda sesuai dengan kemampuan dan ketertarikan siswa. Usahakan tugas/PR tidak mudah untuk ditiru atau saling mencontek, bahkan lebih baik jika PR atau tugas tersebut ada dalam kehidupan sekitar siswa sehari-hari.


Print BeritaPrint PDFPDF

Berita Lainnya



Tinggalkan Komentar


Nama *
Email * Tidak akan diterbitkan
Url  masukkan tanpa Http:// contoh :www.m-edukasi.web.id
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas
 

Ada 0 komentar untuk berita ini